BUDAYA

PENDIDIKAN

SELEBRITI

» » » Ibu Kecapean, 'Aku tidak tahu siapa ayahku'

 Foto: Ist

KITANEWS.COM - KETIKA Kalijodo ramai diperbincangkan di media, titik utama yang dibayangkan tidak jauh dari prostitusi. Lalu menerawang ke persoalan minuman keras, premanisme, narkoba, dan tindak kejahatan lainnya.

Ketika persoalan tersebut terus mengemuka, pihak Kepolisian, TNI, Satpol PP dan Pemprov DKI hingga tingkat pemerintahan paling rendah pun sepertinya mampu menyatukan visi, bergandengan tangan menuju Kalijodo. Seolah-olah mereka disatukan dengan misi yang sama, ‘bumi hanguskan Kalijodo’.

Kalijodo seolah-olah akan dijadikan sasaran ‘meteor’ yang jatuh dari angkasa, semua penduduk diungsikan, sekolah dipindahkan, kegiatan perekonomian warga tak berjalan dan ‘para punggawa’ yang tadinya pasang badan hilang tiarap mencari perlindungan. Kalaupun ada yang bertahan seperti Daeng Azis tentu punya energi yang berlebih untuk melawan.

Namun dibalik itu, dari kisi-kisi kehidupan warga yang terusik, cukup menarik untuk ditelisik dan memahaminya secara sosial budaya. Pasalnya, kehidupan di Kalijodo tentunya tidak jauh berbeda dengan kehidupan lokalisasi lainnya.

Intinya numpang cari makan, membesarkan anak dan berharap bisa menjadi lebih baik pada masa depan. Sebuah harapan besar bagi setiap keluarga, apalagi doa kedua orang tua, meskipun berada di tempat yang salah. Sekolah yang posisinya berada di kawasan lokalisasi sekalipun, tentu berharap anak didiknya bisa mengubah dunia dengan cita-cita murid yang setinggi langit.
Suasana di Kawasan kalijodo Menjelang Relokasi/Dwi Haryanto
 
 Foto: Ist

Hebat! , dan sesungguhnya cita cita itu sudah ditanam semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi mengenaskan, jika cita cita itu tergantung tak terlihat, mengambang ketika tiga sosok murid tengah berbincang di gang Kalijodo.

Di sebuah gang sempit di Kalijodo, tiga orang bocah Soleh, Sarmen, Sarjo (bukan nama sebenarnya) tengah asyik berbincang. Tiga bocah ini merupakan teman-teman sebaya yang masih duduk di sekolah dasar. “Besok kita terima rapor ya Men! Aku yakin aku naik kelas dan nilaiku pasti bagus semua?” tutur Sarjo pada Sarmen.

Perbincangan tiga bocah yang tidak sengaja itu ternyata terus berkembang. “Ya, tentu saja, kamu kan pinter di sekolah. Aku sih naik kelas, tapi mungkin nilai ku tidak sebagus kamu Jo,” balas Sarmin.

Berhenti sejenak dan hening. Sarjo dan Sarmen menatap Soleh. “Kamu bagaimana Leh? Kenapa tidak ada komentar?”kata Sarjo dan Sarmen serempak sambil menatap Soleh. Mereka berdua berharap jawaban Soleh tetap optimis pada kenaikan kelas nanti.

Pelan tapi pasti akhirnya Soleh mencoba tersenyum.”Pak guru minta aku membawa orangtuaku datang saat terima rapor besok,” tuturnya dengan suara berat. Sepenggal perbincangan tiga bocah tadi berlanjut saat nama Soleh dipanggil guru kelas esok harinya saat menerima rapor.

Soleh memang dipanggil terakhir oleh Pak Sardin, guru kelas Soleh. “Soleh, ini giliranmu untuk terima rapor. Mana orangtuamu, saya ingin bertemu, karena nilai kamu banyak yang turun,” kata Sardin.

Soleh masih terdiam. Soleh menatap guru kelasnya, Pak Sardin. “Ibu saya masih tidur pak, kecapaian. Tadi malam lembur sampai subuh,” kata Soleh.

“Loh, ayahmu mana ?” timpal Pak Sardi. Lagi-lagi Soleh terdiam. “ Aku tidak tahu siapa ayahku, pak ? “jawab Soleh.

Pak Sardi terhenyak, terdiam. Sebagai seorang guru kelas, Sardi hampir lupa bahwa sekolah tempat dia mengajar berada di kawasan lokalisasi. Ada murid yang ‘tidak memiliki ayah’, atau siapa ayahnya. Wassalam.

(Sumber: Kriminalitas.com)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply